BANGUN NEGERI MELALUI PENDIDIKAN

Ini artikel gw ambil dari www.perkantasjkt.org ditulis oleh Andrew Hutagalung, selamat membaca:
Jika kita melihat iklan-iklan layanan masyarakat di televisi tentang kondisi pendidikan di Indonesia, maka kita akan dapat menyimpulkan betapa rendahnya kualitas pendidikan yang ada di daerah-daerah. Apa yang akan saya gambarkan tentang kondisi pendidikan di Kalimantan Barat di bawah ini merupakan salah satu potret tentang pendidikan di Indonesia. Kalimantan Barat termasuk daerah yang pendidikannya paling ketinggalan dibandingkan dengan propinsi lain.

Ketika saya melakukan kunjungan ke beberapa sekolah, saya memperhatikan bahwa kondisi bangunan SD umumnya sudah tua dan kualitasnya pun kurang baik, bahkan ada beberapa SD yang jumlah gedungnya kurang sehingga ada kelas-kelas yang harus digabung menjadi satu. Jarang ada sekolah yang mempunyai perpustakaan, kecuali sekolah yang di ibukota kabupaten. Bagi sekolah yang agak jauh dari kota kabupaten atau dari pinggir jalan raya, jumlah gurunya kurang bahkan ada yang satu sekolah hanya mempunyai satu orang guru untuk menangani kelas 1 sampai dengan kelas 6. Saya tidak tahu bagaimana guru tersebut menangani hal ini.

Ketika melihat kondisi murid-murid, banyak diantara mereka yang tidak mempunyai buku paket. Banyak juga diantara mereka yang ke sekolah tidak memakai alas kaki. Bagi anak-anak yang sekolahnya jauh, mereka harus berjalan kaki dua jam lebih, sehingga ketika mereka tiba di sekolah kondisi mereka sudah mengantuk dan tidak siap menerima pelajaran.

Kondisi lingkungan masyarakat dimana sekolah berada juga kurang mendukung. Banyak orang tua yang tidak memperdulikan akan kondisi anaknya. Tanggung jawab pendidikan anak tersebut sepenuhnya diserahkan kepada gurunya. Disamping itu karena malam hari tidak ada listrik maka anak-anak tersebut jarang belajar. Umumnya anak-anak tersebut berasal dari golongan ekonomi lemah.
Dari kondisi murid, guru, fasilitas sekolah, ekonomi dan lingkungan yang terpapar di atas, apakah masih ada harapan untuk membangun mereka? Dengan tegas saya menjawab “Ada!” Ketika saya menanyakan mereka yang masih bersekolah, ternyata mereka masih mempunyai keinginan untuk memperbaiki hidupnya. Ketika saya tanyakan cita-cita mereka, mereka menjawab dengan malu-malu. Umumnya mau menjadi hamba Tuhan, karena di daerah ini banyak pelayanan misi dari luar. Bandingkan dengan anak kota yang katanya mempunyai cita-cita setinggi langit.

Sekolah tempat saya melayani bernama sekolah Kristen Makedonia yang terdiri atas SD, SMP dan SMA. Terletak di daerah Ngabang- Kalimantan Barat, sekolah ini berada dibawah naungan Yayasan Mika (Misi Kalimantan). Visi dan misi sekolah ini hampir sama dengan visi dan misi pelayanan Perkantas. Kami menerima murid-murid yang berasal dari wilayah kabupaten Landak. Kualitas anak-anak yang kami terima merupakan anak-anak yang mempunyai prestasi yang bagus di sekolah-sekolah mereka sebelumnya. Ketika kami mengadakan tes kepada anak didik kami, kualitas mereka masih jauh jika dibandingkan dengan anak-anak yang dari kota. Ini terjadi bukan karena mereka kurang pandai, tetapi mungkin karena kondisi pendidikan dan lingkungan mereka sebelumnya. Karena pola pikir mereka amat berbeda, mereka memerlukan pendampingan intensif dalam belajar. Mereka sering tidak mengerti dengan buku yang mereka baca, karena bahasa yang ada di buku tidak cocok dengan bahasa mereka. Untuk mendidik mereka memang diperlukan kesabaran dan ketekunan yang tinggi.

Apakah peran kita atau Perkantas bagi pendidikan di daerah? Kita pasti sangat tahu motto “Student Today, Leader Tomorrow” dan amanat agung Tuhan Yesus di dalam Matius 28. Pelayanan bidang pendidikan ke daerah-daerah merupakan ladang yang masih terbuka luas. Tetapi kendala alumni jika datang ke daerah ialah alumni sering tidak tahu apa yang harus mereka lakukan di daerah. Belum lagi jika dibandingkan dengan kesempatan untuk berkarir di kota besar terutama Jakarta yang lebih luas dibandingkan dengan daerah, apalagi pedesaan. Bahkan orang desa yang ke kota pun jarang mau pulang kampung. Tetapi kita masih tetap bisa berperan dalam pendidikan misalnya dengan menjadi orang tua asuh. Anda bisa mengirimkan dan mengumpulkan buku-buku pelajaran yang sudah tidak terpakai tapi masih baik. Bahkan Anda bisa memberikan pelatihan-pelatihan gratis yang amat diperlukan orang desa.
Jika hati Anda tergerak untuk menjadi pendidik, ada baiknya Anda kembali ke daerah. Pengalaman-pengalaman yang sudah kita dapatkan di kota dapat kita terapkan bagi pendidikan orang-orang desa. Bukan hanya secara akademis di sekolah, bahkan di lingkungan masyarakat dan gereja kita bisa menjadi berkat. Hal-hal yang sudah kita dapatkan ketika mahasiswa dapat kita bagikan kepada orang-orang desa. Contohnya Anda bisa mengajarkan cara hidup sehat kepada penduduk. Kita juga dapat memberitakan Injil kepada orang-orang desa yang secara pengetahuan rohani masih kurang. Bahkan jika Anda mau menetapkan tinggal seumur hidup dan aktif di kegiatan masyarakat, mungkin saja terbuka kesempatan untuk menjadi pemimpin di daerah tersebut.

Memang berat jika harus melayani ke daerah yang tertinggal, tetapi bila kita mempunyai misi, kita harus siap menghadapi semua tantangan. Kita mungkin akan mendapat tantangan bukan hanya dari keluarga, tetapi kita juga akan mendapat tantangan dari orang-orang yang kita layani. Tetapi lebih indah hidup mengikuti panggilan Tuhan daripada mengikuti keinginan hati. Jadi cobalah untuk mengikuti panggilan tersebut. Mungkin untuk jangka waktu setahun, dua tahun, tiga tahun, atau seterusnya.

Saya teringat dengan mimpi Isabello Magalith, dimana ia merindukan adanya profesional-profesional yang menjadi berkat di manapun Tuhan tempatkan mereka. Mimpi saya suatu saat nanti anak didik saya ada yang menjadi pejabat, ilmuwan, pengusaha dan profesi lainnya yang bisa menjadi berkat bukan hanya di daerahnya tetapi juga bagi bangsa ini demi kemuliaan Tuhan.

Leave a Reply